Ilustrasi petani tembakau

Tembakau Lombok, Varietas Unggul yang Menggerakkan Ekonomi

Lombok, 19 Januari 2026 –  Berada di posisi kedua setelah Jawa Timur, tembakau di Nusa Tenggara Barat menjadi komoditas penting. Tembakau menjadi varietas unggul yang menggerakkan. Terutama Lombok Timur yang menjadi penyumbang terbesar dengan lebih dari 60 persen hasil produksi tembakau. Disusul Lombok Tengah 37 persen. Sekurangnya ada 36 ribu kepala keluarga (KK) menjadi petani tembakau di daerah itu.

Terdapat lima varietas tembakau unggul di Lombok. Kelima varietas tersebut adalah Eskot (tembakau kuning), Layu Besar Gerung (tembakau hitam), Beboro Labuapi (tembakau hitam), Kasturi Kediri (tembakau kuning dan hitam), Layur Kediri (tembakau kuning dan hitam).

Hasil produksi tembakau yang baik biasanya diekspor ke negara lain dan ada pula yang dibeli oleh pabrikan besar. Sedangkan yang tidak lolos sortir dijual di pasar untuk tingwe (linting dewe) atau membuat rokok sendiri. Saat ini, tingginya produksi tembakau di Lombok menjadikan komoditas tembakau sebagai salah satu penopang perekonomian daerah. Pemerintah menggelontorkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) sebesar 19 miliar rupiah pada tahun 2024. Dana tersebut diharapkan dapat mendukung peningkatan kualitas bahan baku dan pupuk non-subsidi.

Petani dan perusahaan saling menjalin kemitraan, meski begitu terdapat perusahaan yang menjalin kemitraan jangka pendek. Harga daun tembakau juga seringkali tidak begitu transparan. Beberapa petani dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari tembakau. Namun, ada kekhawatiran terkait regenerasi petani karena tidak banyak anak muda yang berminat meneruskan pekerjaan ini.

Grade Tembakau

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Lotim, Mirza Shopian menuturkan saat harga tembakau bersaing,  hal ini menjadi penyemangat bagi petani. “Akan tetapi tidak bagi pengusaha. Pengusaha berharap harganya di tengah-tengah. “Biar sama sama menguntungkan,” ucapnya. Jumlah pengusaha tembakau mitra petani saat ini terlapor ke Dinas Pertanian Lotim sebanyak 30. Jumlah ini terus bertambah.

Mengenai penjualan tahun lalu, sebut ya, tergantung juga permintaan dari Jawa. Soal harga, perusahaan dengan petani mitra yang menentukan. Masing-masing perusahaan beda beda tergantung grade. Selanjutnya dikatakan Mirza, saat ini yang dikhawatirkan oleh petani tembakau adalah kondisi cuaca ekstrem. Hujan yang tiba tiba mengguyur membuat petani ketar ketir. Kondisi cuaca saat ini masih kerap terjadi mendung.

Dinas Pertanian Lotim berupaya mengantisipasi dengan memberikan imbauan kepada seluruh petani agar membuat bedengan yang lebih tinggi. Hal ini guna menjaga tembakau tetap kering. Tidak terendam air yang bisa menyebabkan tanaman tembakau mati. (*)

Facebook Comments Box