Pelerja Tembakau Deli

Menjaga Eksistensi Tembakau Deli dengan Pelibatan Masyarakat

Medan, 6 Februari 2026 – Sohornya tembakau Deli membawa nama besar satu kawasan bernama Deli Serdang. Sejak abad ke-19, nama kabupaten di Sumatera Utara ini harum di seantero Eropa karena melekat pada nama sehelai daun legendaris bernama Tembakau Deli.  Sebagai bahan baku cerutu terbaik dunia, Tembakau Deli  telah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah dan ekonomi nasional yang nilai non tunainya sangat tinggi. Bagi PTPN I, Tembakau Deli adalah “emas hijau” yang menjadi prospek masa depan Perusahaan.

Prospek yang sempat surut itu dibangunkan lagi oleh PTPN I yang secara operasional dilaksanakan Regional 1. Sejak tahun 2024, Perusahaan memperluas areal tanaman tembakau dan mulai memperbesar kapasitas pabrik cerutu.  Pada Juli 2025, Pabrik Cerutu Deli Nusantara atau Deli Nusantara Cigar Factory diresmikan. Beberapa produk cerutu yang dihasilkan diberi merek yang melekatkan edisi nama kebun asal tembakau. Antara lain, edisi Helvetia, Saentis, Klumpang, dan Bulu Cina.

Perusahaan mempertahankan kualitas produk dari proses awal sampai akhir. Dari perlakuan lahan, pemilihan dan pemuliaan bibit, pemeliharaan di kebun, usia panen, perlakuan panen dan pascapanen, hingga proses produksi di pabrik.

Direktur Utama PTPN I Teddy Yunirman Danas menegaskan, ikhtiar menjaga eksistensi Tembakau Deli merupakan tugas sejarah sekaligus tanggung jawab sosial perusahaan untuk memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat.

“PTPN I berkomitmen agar warisan dunia ini tidak hanya unggul secara komersial, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi kerakyatan melalui penyerapan tenaga kerja yang berkelanjutan,” kata Teddy Yunirman Danas di Jakarta.

Visi besar tersebut terimplementasi nyata dalam operasional bangsal pengeringan masif yang menyerap tenaga kerja cukup banyak. Region Head PTPN I Regional 1 Wispramono Budiman menjelaskan, di dalam bangunan ikonik itu, setiap helai daun harus melewati siklus biologis yang sangat sensitif selama 17 hingga 22 hari.

Proses tersebut mencakup fase pelayuan (wilting), penguningan (yellowing), hingga pencoklatan (browning) yang menuntut ketelitian tinggi pengawasan ketat. Seluruh tenaga kerja, kata Wispramono, adalah warga sekitar dengan pengalaman, keterampilan, dan ketelitian sangat presisi.

“Tenaga kerja kami adalah warga sekitar yang sudah sangat paham proses dan karakteristik proses tembakau Deli. Aspek-aspek yang harus diikuti pada SOP sangat kompleks. Bukan hanya aspek fisik dari bentuk, ukuran, warna, dan tekstur, tetapi juga ketepatan suhu saat proses, hingga durasi. Ini sangat ketat sehingga produk kami berkualitas tinggi,” kata dia.

Wispramono menambahkan, kekuatan utama yang menjaga keunikan Tembakau Deli tetap terletak pada teknik pengasapan tradisional. Bukan sekadar suhu, panas yang dihasilkan juga tetap menggunakan tungku berbahan bakar campuran kayu karet dan sekam padi. Hal ini untuk mengunci warna cokelat keemasan yang autentik. (sumber: RM.ID)

Facebook Comments Box