Tembakau Bisa Jadi Tanaman Primadona Saat Musim Kemarau

Selain di Desa Selporuo, Kecamatan Lasem, Rembang, rombongan media bersama Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) dan PT. Shadana Arifnusa, juga mengunjungi para petani, dan hijaunya hamparan tembakau di tempat lain. Di antaranya, di Desa Disomulyo, Kecamatan Gunem, dan Desa Karangasem, di Kecamatan Sulang.

Petani menjemur rajangan daun tembakau di halaman rumah rajang Desa Sidomulyo, Gunem, Rembang. Usai dirajang, daun tembakau dijemur hingga kering.

Petani menjemur rajangan daun tembakau di halaman rumah rajang Desa Sidomulyo, Gunem, Rembang. Usai dirajang, daun tembakau dijemur hingga kering.

Seorang petani Desa Sidomulyo, Gunem, Solihul Huda, mengatakan saat ini di desa tersebut terdapat sekitar 110 hektar tanaman tembakau, milik 70 kelompok tani. Diakui, sebelum menanam tembakau, ia juga hanya mengandalkan tanaman padi saat musim penghujan.

“Sejak menanam tembakau, dengan sistem kemitraan, penghasilan kami memang meningkat drastis,” ucapnya, akhir pekan kemarin.

Ketua AMTI, Budidoyo Siswoyo, mengatakan tembakau sebagai tanaman alternatif di saat musim kemarau memang sangat menguntungkan secara ekonomi. Terlebih, menurut dia, para petani mengikuti sistem kemitraan, dalam program Integrated Production System (IPS).

“Kami dorong agar petani tembakau bermitra. Apa yang ada di Rembang ini contoh kemitraan yang bagus, kami harap di tempat lain juga bisa begini,” katanya.

Ditandaskan, selain pembinaan dan bimbingan selama masa tanam, kemitraan juga memberikan kejelasan pasar. Sehingga petani tak pusing menjual tembakau saat panen.

“Pasar tembakau masih sangat terbuka luas, berapa pun produksi petani bisa diserap,” ucapnya.

Sumber: Tribunnews

Related Posts

Leave A Comment

*