Program Kemitraan Tembakau Rembang Tekan 30% Lahan Tidur

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Rembang Susilo Hadi mengatakan pertanian tembakau Rembang kini didominasi sistem kemitraan, meskipun sebagian petani memilih penanaman dan pemasaran mandiri.

Petani di Desa Selopuro Kecamatan Lasem, Rembang, mendapatkan pendampingan dan edukasi bercocok anam tembakau selama proses kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa.

Petani di Desa Selopuro Kecamatan Lasem, Rembang, mendapatkan pendampingan dan edukasi bercocok anam tembakau selama proses kemitraan dengan PT Sadhana Arifnusa.

“Masih ada petani tembakau mandiri, tetapi lebih banyak yang kemitraan yang mendorong pemanfaatan lahan kering dan kosong. Program tersebut setidaknya mengurangi lahan tidur hingga 30%,” katanya, Sabtu (23/8/2015).

Data pemda mencatat pertanian tembakau Rembang menyebar di 102 desa di 11 kecamatan berdampingan dengan pertanian tanaman pangan dan palawija yang ditanam baik di wilayah lereng perbukitan batu putih hingga mendekati daerah laut.

Winarso, petani kemitraan di Desa Selopuro Kecamatan Lasem, mengatakan kemitraan pertanian tembakau mendorong warga tani lebih berdaya secara ekonomi karena mampu memanfaatkan lahan kritis menjelang musim kemarau.

Program kemitraan pertanian tembakau wilayah Rembang dimulai pada 2011 diinisiasi AMTI denga mengusung sistem produksi terintegrasi tembakau bekerja sama dengan PT Sadhana Arifnusa selaku pemasok daun tembakau PT HM Sampoerna Tbk.

“Menjadi mitra Sadhana menguntungkan karena setelah musim tanam padi maka yang tadinya lahan kosong jadi ditanami tembakau dan ada hasilnya. Sebelum menerapkan sistem pertanian ini, tak ada tanaman karena bulan kemarau tanah kritis kering,” ungkapnya.

Menurutnya, pascapanen padi lahan kering bisa juga dimanfaatkan untuk pertanian palawija, “Bedanya kalau tanam padi atau palawija hasilnya untung-untungan, kalau ada hujan hasilnya baik kalau tidak hujan ya puso. Selama ditanami tembakau tidak perna gagal.”

Suharto, pengelola kemitraan PT Sadhana Arifnusa Rembang, mengatakan budi daya tanaman tembakau terintegrasi memungkinkan optimalisasi lahan dan produksi yang didukung implementasi teknik pertanian dan efisiensi produksi.

“Produktivitas dan akses pasar akan selalu dipantau dan semua hasilnya terserap sehingga petani tetap mendapatkan keuntungan.”

Sebagai informasi, harga kemitraan tembakau kering antara Rp20.000/kg-Rp30.000/kg. Produksi tembakau mencapai 1,7-2 ton/ha dengan biaya produksi Rp25-Rp30 juta/ha dan total penjualan sekitar Rp60juta-Rp70 juta/ha dalam sekali masa panen.

Penanaman tembakau yang memanfaatkan lahan kering dilakukan pascapanen padi dimulai Maret-April pada musim kering, dengan estimasi panen pada Oktober. Didukung teknik pertanian modern, panen daun tembakau bisa dilakukan lima hingga tujuh kali.

Sumber: Bisnis.com

Related Posts

Leave A Comment

*