Produksi Tembakau Nasional Belum Mencukupi Kebutuhan Pasar

Peluang bagi petani tembakau di Indonesia, untuk meraup untung lebih, masih sangat terbuka lebar. Produktivitas pertanian tembakau di Indonesia, saat ini dinilai masih belum bisa memenuhi kebutuhan pasar.

Pekerja merawat tanaman tembakau di lahan pertanian milik warga, yang ikut dalam kemitraan, di Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang

Pekerja merawat tanaman tembakau di lahan pertanian milik warga, yang ikut dalam kemitraan, di Desa Selopuro, Kecamatan Lasem, Rembang

Berdasarkan data Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI), pada 2013 kebutuhan pasar untuk tembakau di Indonesia mencapai 315 ribu ton. Sementara, hasil pertanian yang ada hanya sanggup menyuplai 189.600 ton.

“Peluang budidaya tanaman ini masih sangat menjanjikan,” kata Ketua AMTI Budidoyo Siswoyo.

Disampaikan, kendati belum bisa sepenuhnya mencukupi kebutuhan pasar, nilai eksport tembakau dari tahun ke tahun terus meningkat.

“Tahun kemarin, nilai eksport tembakau mencapai satu miliar dolar (US$),” ucap dia.

Menurutnya, sistem kemitraan sebagaimana dalam Integrated Production System (IPS), sebagaimana yang saat ini diterapkan di Rembang, sangat membantu mendongkrak produksi nasional.

Sejak sistem kemitraan ini diterapkan produksi tembakau di Rembang meningkat secara signifikan. Ini bisa dilihat dari jumlah petani yang terus meningkat.

Pada 2014, terdapat sekitar tujuh ribu petani, dengan luasan lahan sekitar 2.500 hektar. Jumlah ini diperkirakan terus meningkat pada tahun ini.

“Sistem kemitraan saat ini tak hanya diterapkan di Rembang, tapi juga di daerah lain. Semisal di Lombok, Wonogiri, Malang, Jember, Blitar, dan Lumajang. Kami harap daerah lain juga bisa segera menerapkannya,” sambung Budi.

Kabid Perkebunan Dinas Pertanian dan Kehutanan Rembang, Susilo Hadi, mengakui sistem kemitraan sangat menguntungkan petani. Di samping itu, juga mendongkrak produktivitas tembakau secara signifikan.

“Petani konvensional (yang tak bermitra) rata-rata hanya mampu menghasilkan tembakau tujuh kwintal per hektar. Sementara, petani yang ikut dalam kemitraan rata-rata mampu menghasilkan 1,7 ton per hektar,” katanya. (*)

Sumber: Tribunnews

Related Posts

Leave A Comment

*