Petani Tembakau Diminta Waspada Hama

Sebelum memasuki masa tanam beberapa bulan ke depan petani tembakau diminta untuk waspada serangan hama.

Pasalnya, hama seperti ulat grayak kerap menjadi biang kegagalan panen bagi para petani selain cuaca ekstrim. Sebagaimana terjadi pada musim tanam tembakau tahun 2016 karena cuaca ekstrem petani gagal panen.

Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat Malang Titiek Yulianti mengatakan, ada sejumlah hama yang harus diwaspadai oleh petani sebelum memasuki masa tanam musim 2017 ini. Oleh karenanya, petani diimbau agar mengetahui secara spesifik jenis-jenisnya dan bagaimana cara penanganannya.

Disebutkan, jenis hama itu antara lain, ulat pupus yang terdiri dari dua spesies yakni, helicoverpa assulta dan helicoverpa armigera, ulat grayak (spodoptera litura), ulat jengkal (plusia signata). Ulat tanah (agrotis ipsilon), ulat penggerek batang (phtorimaea heliopa), kutu daun (myzus persicae sulz), kutu putih (bemisia tabaci genn).

“Ada banyak cara menangani termasuk memakai cara yang alami sepeti hama ulat grayak yang banyak dikeluhkan petani tembakau. Bisa semprotkan pestisida dari bahan biji mimba hingga membuang telur ulat grayak. Biji mimba mengandung zat azadirahatin, triol, salanin, dan mimbin yang efektif mematikan hama,”ujarnya dalam acara Sosialisasi Petani Tembakau Musim Tanam 2017 di Pendapa Pengayoman Temanggung, Kamis (23/2).

Dikatakan, telur ulat grayak biasanya terdapat di balik daun tembakau tertutup serat putih seperti kapas dan harus segera dibuang, sebab jika tidak akan menambah risiko rusaknya daun tembakau. Pasalnya, dalam tiga hari bisa berubah menjadi ulat yang bisa menghabiskan daun-daun tembakau dalam waktu satu malam.

Untuk ulat pupus pengendaliannya bisa dilakukan dengan mencabut sisa tanaman setelah panen lalu dimusnahkan, pengolahan tanah juga dapat membunuh pupanya yang berada di dalam tanah, serta pemangkasan dan wiwil tepat waktu dapat juga menghindari serangan ulat pupus.

Adapun ulat jengkal lebih suka menyerang daun-daun tua serta menyerang persemaian dan pertanaman.

Ulat penggerek batang bisa menghambat pertumbuhan, kutu daun menyerang dengan cara menghisap cairan daun menyebabkan tumbuhnya cendawan embun jelaga sehingga mempengaruhi kualitas tembakau.

“Setiap hama ada cara pengangannya sendiri-sendiri, ada yang harus disemprot, membersihkan gulma rumput dan tanaman inang seperti pada kutu putih. Atau dengan cara mencabut bibit yang terserang, biasanya daun keriting, sampai mencegah penggunaan pupuk nitrogen secara berlebihan. Sekali waktu pada serangan ulat penggerek batang petani juga bisa mengendalikan secara mekanis dengan mengambil ulat dalam batang,”terangnya.

Sumber: SuaraMerdeka

Related Posts

Leave A Comment

*