Petani di Sampang Jera Menanam Tebu

SAMPANG – Harapan petani tebu di Kabupaten Sampang meraup untung besar dari hasil panen perdana ternyata isapan jempol. Karena kualitas tebu yang dihasilkan di tanah Sampang ini jelek, pedagang membeli tebu dengan harga sangat murah. Kondisi ini membuat petani terpukul, mereka rela meninggalkan tembakau mengingat Pemkab Sampang memberikan angin surga, bahwa tebu merupakan salah satu tanaman alternatif pengganti Tembakau.

Hadiri, petani asal Desa Rapa Daya Kecamatan Omben mengungkapkan panen tebu dari pengembangan pilot project intensifikasi dua petak lahannya menghasilkan tebu sebanyak 3 truk. Ternyata hanya dibeli dengan harga murah, yakni Rp 1,8 juta. Tentu saja para petani akan berpikir dua kali untuk menanam tebu kembali, karena khawatir akan semakin rugi. Padahal dia sudah mengeluarkan biaya Rp 3 juta.

“Saya benar-benar kecewa dengan pemerintah, dulu membujuk kami agar menanam tebu. Katanya hasilnya jauh lebih menguntungkan dibandingkan Tembakau. Bahkan kami diiming-imingi tidak akan terjadi permainan harga, karena hasil panen pasti dibeli dengan harga mahal. Tetapi buktinya sekarang harga tebu kami mau dibeli dengan harga murah sekali, “ ujar Hadiri, Kamis (20/10).

Menurut dia, jika dia tetap memilih menanam tembakau tahun ini, tentu untung yang dia peroleh sangat besar. “Jika saya tetap tanam tembakau, dengan harga sekarang Rp 40 ribu per kilogram), saya bisa untung 15 jutaan. Pindah ke tebu kok saya malah buntung. Kualitas tebu di tanah Sampang tidak sebaik di tebu Jawa,” ujarnya mengeluh.

Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Sampang, sangat antusias bahwa program intensifikasi tebu cukup prospek dikembangkan mengantikan tanaman tembakau yang selama ini menjadi primadona di Madura. Bahkan lembaga ini berupaya agar rencana pembangunan pabrik tebu dapat diwujudkan di Sampang.

Keseriuasan Pemkab dalam mengembangkan budidaya tebu yakni membuat kontrak kerjasama Pabrik Gula (PG) Candi, Sidoarjo selama 2009 – 2010 dengan seluas 13,25 ribu ha. Produksi tebu yang dihasilkan selama musim panen mencapai, 883 kuintal per hectare (ha), total tanaman tebu yang dihasilkan mencapai 11.912 kuintal/ha.

“Proyeksi kontrak 2010 – 2011, PG Candi memperluas lahan tanaman tebu menjadi 24,35 ribu hektare. Namun kita tidak mengetahui secara pasti berapa keuntungan yang diperoleh petani karena kita belum dapat memastikan apakah itu merupakan tebu rakyat atau hanya sebatas sewa lahan oleh PG Candi,” jelas Suhrowardy, mantan Kepala Disbunhut kini menjabat Staf Ahli Bupati Sampang.

Bahkan PTPN X juga tertarik memproyeksikan tanaman tebu dengan luas lahan yang ditargetkan mencapai 183 ha, tapi kini baru mampu kembangkan tanaman tebu di atas lahan seluas 72 ha. Dengan wilayah pengembangan meliputi Kecamatan Omben, Ketapang dan Banyuates.

Menyikapi masalah itu, Anggota DPRD Kabupaten Sampang ikut menyoroti program intensifikasi tebu yang dinilai gagal tersebut. Ketua Komisi D, Amin Arif Tirtana merasa prihatin karena petani dijadikan sebagai kelinci percobaan, seharusnya Pemkab mempertimbang aspek ekonomisnya, kultur budaya maupun faktor geografis dan infrastrukturnya.

“Saya yakin, jika tidak ada kepastian harga, petani pasti jera menanam tebu kembali. Karena program yang dilaksanakan terkesan parsial, sehingga posisi petani menjadi obyek penderita, “ tukas Amin. rud

Related Posts

Leave A Comment

*