Pemerintah Diminta Perhatikan Petani Tembakau

Petani tembakau di Lombok Tengah berharap kampanye antirokok tak merugikan petani. Pasalnya, para petani mengaku merasakan betul manfaat dari bertani tembakau.

Lindungi Industri Tembakau, APTI Dukung RUU Pertembakauan

Sukirman, salah satu petani tembakau, Dusun Paok Rengge, Desa Waja Geseng, Lombok Tengah, NTB mengaku setiap tahun 20 persen dari 128 kepala keluarga di dusun ini bisa menghasilkan 80 ton tembakau dari luas lahan 40 hektar. Satu ton tembakau kering yang mereka hasilkan tersebut rata-rata dihargai Rp35 juta.

“Saya tak pernah sukses menamam tanaman lain kecuali tembakau. Percobaannya untuk menanam sayuran lain tak pernah sesukses tembakau,” ujar Sukirman dalam keterangan tertulis, Jumat (20/10).

Menurutnya, tekstur tanah dan kondisi alam Lombok yang relatif kering memang cocok untuk menaman tembakau yang tak memerlukan banyak air. Tak hanya itu, pemberdayaan masyarakat di bidang pertanian pun sampai saat ini hanya pada pertanian tembakau.

Dirinya berharap agar kedepannya Pemerintah dapat lebih memperhatikan petani tembakau. Sehingga bisa ada jalan tengah yang baik bagi kehidupan tembakau di negeri ini. “Ingat, jutaan pekerja beserta keluarganya di Indonesia saat ini sangat bergantung pada tembakau. Maka, tak bisa begitu saja diabaikan, yang dibutuhkan adalah solusi bukan kontroversi,” lanjutnya.

Secara terpisah, Guru Besar Sosial Ekonomi Industri Pertanian UGM, KH Muhammad Maksum Mahfoedz berharap kampanye antirokok memperhatikan segala macam aspek. Ini agar kompleksitas permasalahannya bisa diselesaikan dengan baik. “Jangan sampai para petani tembakau dan para pekerja di bidang pembuatan rokok justru dikorbankan,” katanya

Menurutnya, ada banyak pengaruh yang membuat akhirnya pemerintah bingung dalam menangani masalah tersebut.
“Dibutuhkan kepedulian dan keseriusan masyarakat luas untuk memberikan dukungan kepada Pemerintah agar tidak ragu memihak kepentingan petani tembakau,” ujarnya.

Sumber: Republika

Related Posts

Leave A Comment

*