Laksanakan putusan MK, pengusaha rokok ajukan sejumlah syarat

JAKARTA. Pengusaha rokok putih bersedia menaati keputusan Mahkamah Konstitusi. Namun, pengusaha rokok ini mengajukan sejumlah syarat.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Rokok Putih (Gaprindo) Muhaimin Mufti mengaku bersedia memasang gambar peringatan itu maksimun 30% dari kemasan. Selain itu, dia bersedia memasang gambar peringatan di bagian depan dan belakang asalkan di bagian bawah.

Muhaimin mengatakan persyaratan itu nantinya akan menjadi masukan dalam penyusunan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Tembakau. “Diperkirakan RPP selesai awal 2012. Kami minta masa transisi setidaknya sampai 2015,” kata Muhaimin saat dihubungi, Kamis (3/10).

Asal tahu saja, dalam putusan uji materi Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan Selasa (1/11) lalu, Mahkamah Konstitusi memutuskan produsen dan importir rokok wajib mencantumkan peringatan berupa tulisan yang jelas dan gambar pada kemasannya. Mahkamah Konstitusi menilai pemasangan peringatan ini merupakan perwujudan dan perlindungan terhadap hak setiap orang dalam memperoleh informasi.

Selain itu, Muhaimin mengatakan, penyusunan RPP masih terganjal masalah promosi rokok di acara-acara besar dan iklan di kawasan tanpa rokok. Dia meminta pengusaha rokok masih boleh berpromosi tetapi aksesnya dibatasi. “Hanya bagi yang berusia di atas 18 tahun,” katanya.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengakui ketiga hal tersebut yang masih krusial. Sebelumnya, ia pernah mengatakan kalau RPP Tembakau akan segera disahkan namun menunggu keputusan MK terlebih dahulu. “Belum tahu kapan akan disahkan, mudah-mudahan tahun ini ini,” jelas Endang melalui pesan singkatnya kepada KONTAN, Kamis (3/11).

Related Posts

One Comment

  1. Ali Komarudin
    13 November 2011 at 00:09 Reply

    Sudah seharusnya regulasi yang terkait dengan rokok melibatkan aspirasi dari seluruh komponen yang terkait dengan rokok terutama industri rokok, agar kepentingan mereka juga terakomdasi. Penetapan sepihak dalam pasal-pasal krusial seperti spek gambar dalam bungkus rokok dan larangan promosi rokok hanya menunjukan arogansi kekuasaan dan hanya akan mematikan industri rokok secara perlahan. Padahal kebaradaan industri rokok di Indonesia punya peran besar baik sektor pendapatan maupun tenaga kerja.

Leave A Comment

*