Harga Cengkeh Tembus Rp 225 Ribukg

Akibat produksi merosot tajam harga cengkeh melambung 260%

-JAKARTA – Anomali cuaca yang terjadi pada awal tahun 2011 membuat produksi cengkeh anjlok cukup signifikan. Anjloknya produksi itu itu melambungkan harga hingga Rp 190 ribu/kg di tingkat petani, dan Rp 225 ribu/kg di level industri.

Umumnya, musim panen cengkeh dimulai pada Mei dan disusul panen raya pada Juni hingga September. Curah hujan tinggi sejak awal tahun lalu, menyebabkan bunga cengkeh yang dihasilkan di periode tersebut sangat sedikit.

Soetardjo, Ketua Umum Asosiasi Petani Cengkeh Indonesia (APCI), memperkirakan, produksi cengkeh hanya akan berkisar 10.000 ton hingga 15.000 ton tahun ini. Jumlah ini hanya 9,09%-13,63% dari perkiraan produksi cengkeh yang ditetapkan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan) yang sebesar 110.316 ton.

Jumlah produksi yang kecil praktis tak dapat memenuhi kebutuhan cengkeh dalam negeri yang berkisar 120.000 ton per tahun. “Ditambah stok tahun lalu, harusnya mencukupi,” ujar Soetardjo, kemarin.

Akibat produksi yang merosot, harga cengkeh pun melambung 260% dibanding harga sebelumnya. Menurut Sutarjo, saat ini harga cengkeh di tingkat petani menyentuh Rp 180.000 per kilogram (kg). Coba bandingkan dengan harga cengkeh pada kondisi normal yang berkisar Rp 50.000 per kg.

Yang terpukul kebanyakan pabrik rokok kecil dan menengah. “Karena harga cengkeh untuk pabrik sudah mencapai Rp 190.000-Rp 200.000 per kg,” kata Soetardjo. Padahal, biasanya harga cengkeh untuk pabrik berkisar Rp 55.000-Rp 60.000 per kg.

Ketua Forum Masyarakat Industri Rokok Seluruh Indonesia (Formasi), Heri Susianto, bahkan menyebut harga cengkeh sudah merangkak hingga Rp 225 ribu per kg. Kondisi itu justru semakin membuat industri kecil kesulitan untuk bertahan. Selain harga cengkeh yang malambung, harga tembakau juga 2 kali lipat naiknya.

“Harga cengkeh mulai awal tahun sudah naik, sekarang berada di kisaran Rp 225 ribu/kg. Selain itu harga tembakau juga mencapai Rp 30 ribu – Rp 50 ribu per kg. Itu semakin menggencet industri kecil,”ungkapnya.

Susianto menjelaskan, komposisi cengkeh di dalam bahan baku rokok sebanyak 40%. Kenaikan harga cengkeh membuat produksi rokok di industri kecil kian berat. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh industri kecil agar tetap bertahan adalah dengan menaikkan harga.

Namun, industri rokok kecil tidak serta merta bisa menaikan harga. Sebab, lanjutnya, hal itu akan menambah problem di industri kecil. “Jika harga cengkeh naik, otomatis kami juga harus menaikkan harga produksi. Namun  itu tidak bisa kami lakukan karena problem kami selain karena tingginya harga bahan baku, juga industri rokok besar masih bermain di wilayah kami serta banyaknya industri rokok ilegal,”pungkasnya.

Dia mencontohkan, masuknya industri besar bermain di pasar industri kecil membuat banyak industri kecil yang gulung tikar. Sampai saat ini, sudah terdapat 147 industri di Malang raya yang sudah kolaps.

“Industri besar menjual harga di bawah harga kami. Misalkan kami menjual Rp 6.000, mereka bisa menjual Rp 5.000. Itu yang yang membuat kami tergencet selain dari faktor bahan baku,” ujarnya.

Soetardjo sendiri yang setiap tahun dapat memanen 25-30 ton bunga cengkeh basah, tahun ini hanya memanen kurang dari 1 ton cengkeh basah. Dengan jumlah panen yang sedikit, petani tak serta-merta dapat menikmati harga cengkeh yang melejit.

Kementan sebenarnya sudah memperkirakan produksi cengkeh tahun ini hanya akan mencapai 110.316 ton, atau turun 0,45% dari perhitungan sementara produksi cengkeh 2010 yang sebesar 110.816 ton. “Disamping faktor cuaca, banyak tanaman cengkeh sudah tua atau rusak sehingga produktivitasnya rendah,” kata Gamal Nasir, Direktur Jenderal Perkebunan Kementan.

Untuk mengatasi penurunan produksi cengkeh, Kementan akan menyalurkan bantuan bibit di beberapa daerah sentra cengkeh. Kementan berharap pemerintah daerah dapat ikut memfasilitasi peremajaan tanaman cengkeh milik petani rakyat. kto

Related Posts

Leave A Comment

*