Fahmi: Jadikan Rokok Kretek Warisan Budaya Dunia!

Surabaya (beritajatim.com) – Rokok kretek adalah warisan budaya unik nusantara dan kreasi khas anak bangsa yang harus dipertahankan untuk perkembangan produksi dan penerimaan negara. Keberadaan industri rokok kretek di Indonesia memberikan manfaat dan menjadi tumpuan jutaan tenaga kerja baik langsung maupun tidak langsung.Hal ini disampaikan Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam diskusi Bedah Buku ‘Kretek dari Kajian Ekonomi dan Budaya 4 Kota’ di Hotel Java Paragon, Kamis (24/2/2011).

Menurut dia, Jatim salah satu penghasil rokok kretek terbesar yang menggunakan bahan baku asli dari Indonsia sekaligus penghasil cukai terbesar. Market tembakau Indonesia terhadap dunia sebesar 34 persen dan 25 persen dari Jatim, kususnya dari Jember. Sedangkan produksi tembakau rata-rata dalam 10 tahun terakhir sebesar 73.304 ton dan 9.988 ton dengan luas budidaya menyebar di 22 kabupaten dengan luasan 110.813 ha.

Jatim memiliki 1.399 unit pabrik rokok besar maupun kecil yang tersebar di seluruh daerah dengan total produksi mencapai Rp 180 miliar. Industri rokok saat ini menjadi perdebatan kalangan atas maupun bawah. Bagi sebagian orang merokok adalah barang yang harus dihindari dan ditinggalkan, namun ada juga yang berpendapat bahwa merokok akan menghasilkan ide-ide brilian.

“Gubernur Jatim Soekarwo adalah perokok berat, namun dengan merokok itulah beliau bisa berpikir cemerlang ketika akan mengambil keputusan,” canda Gus Ipul.

Permasalahan yang tampak saat ini adalah bagaimana regulasi dari pemerintah bisa dilaksanakan untuk industri rokok, pemberian ruang merokok dengan memperhatikan non perokok dan hak perokok menjadi sesuatu yang harus dipikirkan solusinya.

Koordinator Masyarakat Bangga Produk Indonesia (MBPI) Fahmi Idris mengatakan, Jatim adalah penghasil dan penyumbang pendapatan terbesar di sektor cukai. Dia mencontohkan, PT Freeport di Papua hanya menyumbang Rp 20 triliun dari royalti penambangan minyak, sedangkan rokok atau cukai di Jatim menyumbang lebih dari Rp 60 triliun. Namun dampak yang ditinggalkan dari PT Freepot terhadap pembuangan limbah harus dibayar mahal oleh negara dan buruk bagi lingkungan sekitar.

“Kretek layak jadi warisan budaya dunia seperti keris atau batik. Dunia telah mengenal minuman Sake dari Jepang dan cerutu dari Kuba. Dulu saya ketika jadi menteri sempat mengusulkan Kretek menjadi national heritage,” tegasnya.

Budayawan Mohammad Sobary yang menulis pengantar dalam buku Kretek itu menambahkan, isi buku itu menekankan jangan lupa di dalam rokok mengandung 3 sudut, yakni ekonomi, politik dan budaya. Rokok adalah produk kebudayaan dan kebanggaan bangsa Indonesia yang tidak bisa dibuat bangsa lain.

“Rokok juga menyerap tenaga kerja dari hulu hingga hilir jika dilihat dari sudut ekonomi. Rokok dilihat dari politik juga menjadi titik tolak bangkitnya bangsa kita yang tidak bisa dijual ke bangsa lain,” imbuhnya. [tok/kun]

Related Posts

Leave A Comment

*