Divine Cigarette Bebaskan Penderita Kanker Hati

MALANG–MICOM: Vonis menderita kanker hati stadium tiga menerpa Ala Lisenko Sulistyono, Agustus 2008 silam. Dokter memperkirakan hidupnya tinggal enam hingga delapan bulan lagi. Tetapi dengan pengobatan divine cigarette, kini Ala Lisenko mampu bertahan dan mendapatkan kesehatan yang lebih berkualitas.

-Divine cigarette adalah penggunaan nano biologi untuk menjinakkan asap kretek dan dimanfaatkan untuk kesehatan manusia lewat partikel yang dilukiskan mampu menjadi penyedia elektron pada sistem transfer listrik dalam proses fisiologi normal. Keraguan akan asap rokok berdaya menyembuhkan, bisa terjawab.

Sebelum sakit, kalau ada yang bilang ada cara mengobati kanker dengan tembakau, apalagi kretek, Ala Lisenko pasti bilang, “Gila, yang benar saja!”. Tetapi sekarang kalau ada yang tanya tentang pengobatan dengan teknik nano biologi, Ala  yang kelahiran Australia dan telah 27 tahun bermukim di Indonesia, sudah membuktikan itu.

Ala memang memilih menjalani terapi balur yang memanfaatkan pengobatan divine cigarette. Dia dianjurkan mengganti amalgam yang menempel di gigi dengan komposit sebelum menjalani serangkaian terapi balur di Jakarta dan dilanjutkan di Rumah Sehat milik Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Jawa Timur. Terapi balur memanfaatkan divine cigarette yang diperkaya berbagai asam amino lewat pendekatan nano biologi. Pendekatan nano biologi memungkinan asap divine cigarette mengikat mercuri yang diduga menjadi biang penyebab kanker hati.

Mengutip Dr Saraswati Subagjo selaku pengelola Rumah Sehat yang menginduk pada Lembaga Penelitian Peluruhan Radikal Bebas di Malang, Ala mengemukakan, kanker hati stadium akut bisa sembuh berkat terapi balur, yaitu  proses detoksifikasi pembaluran kulit dengan menggunakan berbagai bahan peluruh radikal bebas yang dikombinasikan dengan asap divine cigarette. Itu dilakukan sebagai upaya untuk mengangkat merkuri dan logam berbahaya lainnya dari dalam tubuh.

Asap rokok berbentuk partikel berukuran nano mudah meresap dan meminimalkan radikal bebas, khususnya  merkuri dari dalam tubuh. Saraswati bersama sejumlah ahli seperti guru besar biologi molekuler Universitas Brawijaya Malang Prof Dr Sutiman B Sumitro, mengembangkan proses detoksifikasi yang dapat mengangkat racun logam berbahaya seperti merkuri atau air raksa dari tubuh pasien.

Proses balur, sebagaimana pernyataan Prof Dr Sutiman B Sumitro, dapat dimanfaatkan untuk mengobati kanker dan beberapa penyakit lainnya. Pada prinsipnya tubuh memiliki kemampuan melakukan self regenerasi maupun self reparasi, dengan cara inilah homeostasis kehidupan normal dapat berjalan. Hal seperti ini menjadi macet atau tidak terjadi pada orang sakit karena proses biologis yang ada tidak efisien, khususnya dalam pengelolaan aliran energi. Hal itu ditandai oleh banyaknya tumpukan radikal bebas. Dengan proses balur, pengaturan homeostasis radikal bebas dapat dilakukan, dan pasien dapat lebih cepat dan lebih mudah sembuh.

Sesudah 6 bulan, kata Ala, hasilnya menunjukkan bahwa kanker hatinya mulai mengecil. Hasil pemeriksaan itu dibawa ke dokter onkolog. Dokter tanya, treatment apa yang sudah dilakukan. Ala bercerita panjang lebar tentang balur, tapi tidak cerita bertumpu pada rokok kretek. “Dokter waktu itu bilang, saya harus memperlihatkan hasil pemeriksaan itu kepada dokter spesialis hati dan saya bilang bahwa mereka tidak mau tahu. Dokter bilang, but this is science!” jelas Ala.

Menurut Ala, apa yang dilakukan pasti akan ada pendapat hal itu aneh. Kalau ada orang yang punya pendapat lain, Ala sangat menghormati. Yang pasti, sudah 2 tahun 5 bulan berlalu sejak dibalur, Ala sungguh menikmati hidup. Ia setiap hari bersyukur kepada Tuhan karena hidupnya kini lebih hidup. (RO/OL-2)

Related Posts

Leave A Comment

*