Dilema Petani Tembakau Wonogiri Bertahan di Tengah Pro-Kontra

Selama ini orang melihat Wonogiri terkenal dengan metenya. Padahal, sebagian kecamatan juga menghasilkan tembakau. Keberadaan mereka memiliki kontribusi signifikan terhadap bagi cukai tembakau. Namun, untuk panen kali ini mereka mulai mengalami kendala. Seperti apa?

Data di Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Wonogiri, jumlah produksi tembakau pada akhir tahun lalu mencapai 285 ton dengan rata-rata produksi mencapai 627 kilogram per hektare. Sedangkan untuk tahun ini jumlah produksi meningkat menjadi 611,7 ton. Namun, rata-rata produksinya menurun menjadi 452 kilogram per hektare.

“Hal itu terjadi karena adanya peningkatan luas lahan dari 492 hektare menjadi 1.353 hektare,” kata Kepala Dishutbun n Wonogiri Gatot Siswoyo belum lama ini.

Saat ini tanaman tembakau dikembangkan di 11 kecamatan. Total luas lahan mencapai 1.353 hektare, sementara total produksi sampai Oktober 2016 adalah 611,7 ton atau produktivitas 452 kilogram per hektare. Produksi tembakau tahun ini mengalami penurunan 28 persen, meski luas tanaman naik 175 persen karena faktor cuaca.

“Selain itu, masih ada kendalan bagi petani untuk memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh pasar,” kata Gatot.

Kemudian, dalam sebuah kesempatan di pendap kantor bupati Wonogiri sebelumnya, Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengatakan bahwa pemerintah akan mengalokasikan anggaran untuk para petani tembakau agar harga tembakau anjlok dan mereka tetap bisa berproduksi. Meski tidak menyebut besaran alokasi anggaran, Jekek mewacanakan bahwa anggaran akan diambilkan dari dana bagi hasilcukai tembakau (DBHCT).

“Dana DBHCT saat ini hampir Rp 7 miliar, tapi petani tembakau sarana dan prasarananya kurang. Rajangan yang harganya tidak sampai Rp 10 juta saja tidak punya. Kita akan alokasikan anggaran bagi petani,” kata Jekek.

Namun, Jekek menyebut bahwa alokasi anggaran harus dibarengi dengan perbaikan manajemen dari petani. Jekek menyindir bahwa selama ini manajemen pasca panen petani salah investasi. “Kalau habis panen waktu harganya tinggi langsung belanja mobil dan membangun rumah. Padahal sudah punya mobil, rumahnya juga sudah bagus. Biar terlihat wah, tapi ini bukan petani di Wonogiri, tapi di daerah penghasil tembakau yang lain. Kebanyakan para petani salah investasi, sehingga kesulitan modal saat harga anjlok,” ujarnya. (kwl/bun)

Sumber: RadarSolo

Related Posts

Leave A Comment

*