Cukai Rokok Naik, Pengusaha: Banyak yang Sudah Tutup Pabrik

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) memastikan tarif cukai rokok bakal mengalami kenaikan rata-rata 11,19% mulai 2016. Kenaikan cukai ini dilakulan untuk mengejar target penerimaan cukai sebesar Rp 146,4 triliun di 2016.

Kenaikan cukai ini membuat pengusaha pabrik rokok keberatan, karena saat ini banyak pabrik yang tengah kesulitan akibat penjualan rokok yang munurun drastis, beberapa bahkan sudah menghentikan produksinya.

Cukai Rokok Naik, Pengusaha - Banyak yang Sudah Tutup Pabrik

“Kenaikan cukai waktunya kurang pas. Penjualan sekarang lagi turun, sekarang banyak yang tutup pabrik (rokok). Saya belum kumpulkan data-data yang sudah tutup dan imbas PHK sampai November,” kata Sekjen Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Hasan Aoni kepada detikFinance, Rabu (11/11/2015).

Hasan mencatat, produksi rokok hingga Oktober saat ini sebesar 275 miliar batang. Angka produksi ini lebih kecil dari produksi rokok tahun lalu sebesar 289 miliar batang. Hal ini merupakan indikasi produsen rokok tengah kesulitan menjual produknya.

“Ada penurunan produksi menandakan penjualan rokok lagi susah. Apalagi nanti setelah cukai naik tahun depan, sudah jualnya semakin susah, harga terpaksa harus menyesuaikan dengan cukai yang baru,” ujarnya.

Hasan mempertanyakan kenaikan cukai rokok yang dilakukan hanya untuk mengejar target penerimaan. Di sisi lain, tidak memperhatikan penurunan produksi rokok.

“Bulan Oktober tahun ini, penerimaan cukai baru tercapai Rp 94 triliun dari target Rp 138 triliun tahun ini. Sementara sisa waktu tinggal 2 bulan. Makanya buat dorong cukai di akhir tahun baru dinaikkan agar produsen beli cukai di awal. Tapi ini tak memperhatikan kalau produksi rokok juga sudah turun sebelum cukai naik,” jelas Hasan.

Sebagai informasi, kenaikan tarif cukai rokok terbesar ada pada rokok sigaret putih mesin (SPM) atau rokok putih sebesar 12,96%-16,47%. Rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 11,48%-15,66%, dan sigaret kretek tangan (SKT) sebesar 0-12%.

Berikut rincian kenaikan cukai rokok dikutip detikFinance dari data Kemenkeu:

Sigaret Kretek Mesin (SKM):

  • Golongan 1 : Tarif Rp 480 per batang, naik Rp 65 atau 15,66%.
  • Golongan 2A: tarif Rp 340 per batang, naik Rp 35 atau 11,498%.
  • Golongan 2B: tarif Rp 300 per batang, naik Rp 35 atau 13,21%.

Sigaret Kretek Tangan (SKT):

  • Golongan 1A: tarif Rp 320 per batang, naik Rp 30 atau 10,34%.
  • Golongan 1B: tarif Rp 245 per batang, naik Rp 25 atau 11,36%.
  • Golongan 2A: tarif Rp 155 per batang, naik Rp 15 atau 10,71%.
  • Golongan 2B: tarif Rp 140 per batang, naik Rp 15 atau 12,00%.
  • Golongan 3A: tarif Rp 90 per batang, naik Rp 5 atau 5,88%.
  • Golongan 3B, tarif Rp 80 per batang, naik Rp 0 atau 0%.

Sigaret Putih Mesin (SPM):

  • Golongan 1: tarif Rp 495 per batang, naik Rp 70 atau 16,47%.
  • Golongan 2A: tarif Rp 305 per batang, naik Rp 35 atau 12,96%.
  • Golongan 2B: tarif Rp 255 per batang, naik Rp 35 atau 15,91%.

Related Posts

Leave A Comment

*