Bergulirnya MEA Industri Tembakau Indonesia Siap Bersaing

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia ( AMTI) Budidoyo mengakui, bergulirnya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) industri pertembakuan Indonesia kedepan masih memiliki tantangan cukup panjang dengan industri daun kuning tersebut. Walupun tahun ini , industri tembakau indonesia masih menghadapi berbagai masalah bukan berarti industri tembakau ini harus mati diakibatkan penekanan dari pihak lain.

“Justru adanya MEA ini kami terus menjalin kerjasama baik antar anggota maupun elemen untuk tetap menjaga produk tembakau Indonesia dengan baik . Hal ini, sebagai upaya mengantisipasi gempuran produk asing,” tegas Budidoyo di Pasuruan, Selasa (26/1).

Bergulirnya MEA Industri Tembakau Indonesia Siap Bersaing

Menurutnya, pihak terus memperjuangankan regulasi dan hak petani tembakau Indonesia dari ancaman dari pihak asing. Ancaman itu, kata Budidoyo, adalah RUU Pengendalian Dampak Produk Tembaku terhadap Kesehatan (RUU-PDPTK) dimana pelaksanaan proyek Prakarsa Bebas Tembakau. Bahkan, sebagain besar substansi RUU ini diambil dari FCTC (Framework Convention on Tobacco Control)

”Pemerintah seharus mendukung petani tembakau Indonesia. Tembakau tidak bisa dihilangkan begitu saja. Selain itu, tembakau merupakan tradisi petani bangsa Indonesia yang selalu dilakukan oleh leluhur kita. Untuk itu, kami terus berjuang untuk petani tembakau Indonesia,” tegasnya.

Walaupun negara lain penghasil tembakau, diantaranya Cina, India, Brasil, Amerika Serikat, Turki, Zimbabwe, dan Malawi dengan total produksi lebih dari 80 persen tembakau dunia. Sementara negara China sendiri menguasai 35 persen tembakau.

“Kita tidak takut dengan tembakau dari negara lain. Hal ini, kualitas tembakau kita lebih bagus dengan negara itu. Intinya, menghadapi MEA ini industri tembakau Indonesia siap bersaing,” ucapnya.

Dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia produksi tembakau menyumbang paling besar jika dibandingkan sektor lain. Industri tembakau memberi kontribusi besar bagi pendapatan negara dalam bentuk cukai dan pajak mencapai Rp 150 triliun.

Disinggung DPR resmi memasukan RUU Pertembakauan ke dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) Prioritas 2015 lalu. Dimana RUU tersebut disebut dirancang untuk melindungi petani dan industri ?

“Kami mendukung penuh RUU Pertembakauan. Pasalnya, petani butuh regulasi komprehensif yang tidak semata perspektif domain kesehatan,” tambahnya

Ia berharap RUU Pertembakauan dibahas secara holistik terutama dari perpektif perlindungan kepada petani di daerah. Untuk itu perlu ada keseriusan dari DPR untuk mewujudkan hal tersebut. Selain itu pula ia minta regulasi yang berkaitan dengan komoditi tembakau tidak selalu copy paste dari aturan luar yang seringkali merugikan.

Sumber: BisnisKini

Related Posts

Leave A Comment

*